pemberi hutang vs penerima hutang

Urusan pinjam meminjam uang itu banyaklah yang terjadi di sekitar kita, dan mungkin teman-teman juga mengalaminya sendiri. Pernah tidak memberi hutang? Atau malah jadi orang yang berhutang? Atau mungkin pernah dua-duanya he he …

Kalau sudah urusan uang, ribet banget pokoknya cek saldo bri. Yang jadi pertanyaan sekarang, enak mana sih menjadi orang yang memberi hutang ataukah yang berhutang? Sama-sama nggak enaknya lha yaa..

Aku termasuk orang yang “sungkanan”, jadi kalau ada yang pinjam uang aku sungkan untuk menolak. Sebaliknya jika aku sudah memberi hutang, aku sungkan untuk menagih.

Beberapa contoh sih, ada temen meminjam uang Rp 350.000 katanya seminggu dikembalikan. Setelah seminggu, dia bilang baru bisa sebulan lagi. Ya, aku bilang tidak apa-apa kok. Sebulan berlalu dia bilang belum bisa bayar, kasih waktu sebulan lagi. Ya udahlah, aku setuju. Setelah waktu yang dijanjikan lewat, tidak ada sms atau berita apapun dari dia. Aku tunggu lagi sampai 2 bulan berikutnya, tetap tidak ada kabar. Akhirnya setelah sebulan lagi berlalu, aku terpaksa sms dia dan menanyakan tentang uang itu. Eh akhirnya dia balas sms kalau mau ke rumah dan melunasi hutangnya. Syukurlah, kali ini bukan cuma omong kosong. Meski janji nya seminggu, baru 5 bulan kemudian dikembalikannya. Aku bersyukur banget. Ya memang jumlahnya tidak begitu besar tapi uang itu kan bisa kupergunakan untuk membeli buku-buku cetak anakku ( Saat itu memang sedang tahun ajaran baru, dan sedang banyak-banyaknya pengeluaran, untuk buku, seragam dll). Dia bilang lupa terus dan tidak ada waktu untuk ke rumahku, ya ampun iya kalau pinjamnya cuma 10 ribu doang, ini 350 ribu, bisa lupa? Aku hanya bisa geleng – geleng kepala.

Kasus kedua ada yang pinjam Rp 125 ribu, janjinya sebulan akan dibayar. Sebulan berlalu dia minta waktu sebulan kemudian, aku iyakan saja. Ternyata sampai sekarang, sudah 1 tahun lebih, dia tidak pernah membayar hutangnya. Aku masih sering bertemu dengannya kalau mengantar anak sekolah, tetapi dia sama sekali tidak membicarakan tentang hutang itu. Dan aku selain sungkan juga malas untuk menanyakannya, jadi yah hutangnya kuanggap lunas saja, sudah kuikhlaskan.

Kasus lainnya lagi, dua bulan lalu ada seorang teman juga meminjam uang Rp 300.000 tapi karena saat itu aku cuma punya Rp 150.000 jadinya ya cuma segitu yang bisa kupinjamkan. Dia bilang 2 minggu akan dibayar. Ternyata sudah dua bulanan tidak ada kabar sama sekali, sms sekedar memberitau kalau belum bisa membayarpun tidak. Jadi kemungkinan, kali ini kasusnya akan sama dengan kasus kedua. Jika akhirnya dia melunasi hutangnya, ya aku bersyukur banget. Tapi jika tidak, aku sudah ikhlas.

Semua kejadian ini merupakan pelajaran berharga juga buatku. Aku jadi tak habis pikir, apakah mereka itu lupa atau memang sengaja lupa? Apakah sebenarnya mereka bisa membayar tapi kalau tidak ditagih ya diam saja? Ataukah memang benar-benar masih belum mampu melunasi hutangnya?

Ya, aku berusaha positif saja, aku berasumsi kalau mereka memang benar masih belum bisa membayar, jadi dengan mengikhlaskan uang tersebut aku secara tak langsung sudah membantu mereka.

Jadi sekarang, enak mana sih orang yang berhutang atau yang memberi hutang. Seyogyanya orang yang berhutang itu yang tidak enak karena punya kewajiban untuk membayar hutangnya. Tetapi dari pengalaman ini, ternyata orang yang memberi hutang pun tidak enak juga yaa. Eh tapi mungkin tidak sama dengan orang yang sifatnya tegas, tidak sungkanan sepertiku ini. Jadi kalau mau menagih hutang ya nagih saja karena itu memang haknya kan .. Paling enak tuh kalau tidak berhutang dan tidak memberi hutang he he..

Ya, inilah serba-serbi hidup …

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *